<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Guru Komputer &#187; linux</title>
	<atom:link href="http://educnology.web.id/tag/linux/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://educnology.web.id</link>
	<description>Lecturer, Researcher, Teacher</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Aug 2010 13:40:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Linux dan Pendidikan</title>
		<link>http://educnology.web.id/all-about-education/linux-dan-pendidikan/</link>
		<comments>http://educnology.web.id/all-about-education/linux-dan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 15:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandi Fajar Rodiyansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[All About Education]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan TIK]]></category>
		<category><![CDATA[guru TIK]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum TIK]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[tik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://galuh29.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Departemen pendidikan nasional pada tahun 2006 mengeluarkan kurikulum baru yang disebut dengan KTSP (Kurikulum tingkat satuan pendidikan) yang merupakan pengembangan dari KBK (Kurikulum berbasis kompetensi). Hal ini merupakan terobosan baru dari pemerintah untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Dengan KTSP setiap satuan pendidikan berhak untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kultur dan kemampuan satuan pendidikan tersebut. <a href="http://educnology.web.id/all-about-education/linux-dan-pendidikan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://lh3.ggpht.com/yudha.spiza/SIJDXDd0NcI/AAAAAAAAAbA/lZFB97KMbrw/logo-LGTS.png?imgmax=800" alt="" width="312" height="159" />Departemen pendidikan nasional pada tahun 2006 mengeluarkan kurikulum baru yang disebut dengan KTSP (Kurikulum tingkat satuan pendidikan) yang merupakan pengembangan dari KBK (Kurikulum berbasis kompetensi). Hal ini merupakan terobosan baru dari pemerintah untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Dengan KTSP setiap satuan pendidikan berhak untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kultur dan kemampuan satuan pendidikan tersebut.</p>
<p>Pada KTSP atau bahkan KBK sebagai pendahulunya telah memasukan salah satu mata pelajaran wajib yang dipelajari oleh siswa. Pelajaran tersebut adalah pelajaran TIK, pada pelajaran ini siswa mengetahui dan mempraktikan penggunaan alat-alat teknologi informasi dan komunikasi.</p>
<p>Masalah yang kemudian muncul dari adanya kurikulum TIK adalah bagaimana perangkat lunak digunakan dalam pembelajaran. Mengingat kita mengetahui ada dua macam perangkat lunak yang berkembang di dunia TIK yaitu perangkat lunak berbayar dan perangkat lunak bebas. Dengan menggunakan perangkat lunak berbayar kita dituntut untuk membeli lisensi penggunaan perangkat lunak tersebut kepada depelover perangkat lunak tersebut. Sementara perangkat lunak bebas adalah perangkat lunak yang bebas digunakan dan didistribusikan kepada siapapun.</p>
<p>Kurikulum TIK 2006 itu tidak lagi menyebut nama produk perangkat lunak, seperti dalam kurikulum pendidikan komputer di Indonesia beberapa tahun sebelumnya. Misalnya, pelajaran pengolah kata tidak menyebutkan Microsoft Word, sehingga penyelenggara sekolah dapat menggunakan OpenOffice Writer, AbiWord, Kword, dan lain-lain.</p>
<p>Yang lebih menarik, dalam salah satu materi pokok pelajaran TIK untuk sekolah itu terdapat materi etika dalam menggunakan teknologi informasi dan UU Hak Cipta. Akan sangat memalukan, bila pada saat pelajaran tentang etika dan hak cipta ini siswa menggunakan perangkat lunak bajakan. Di sisi lain, akan sangat berat bagi sekolah dan orang tua siswa, jika harus membayar lisensi semua perangkat lunak yang digunakan di sekolah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://educnology.web.id/all-about-education/linux-dan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Install Ubuntu 8.10. di harddisk eksternal</title>
		<link>http://educnology.web.id/open-source/install-ubuntu-810-di-harddisk-eksternal/</link>
		<comments>http://educnology.web.id/open-source/install-ubuntu-810-di-harddisk-eksternal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 12:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandi Fajar Rodiyansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[guru TIK]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum TIK]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan TIK]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://galuh29.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya ngga ada kerjaan, akhirnya saya buka-buka koleksi CD Software Linux saya dan menemukan CD Ubuntu 8.10. akhirnya saya tertarik untuk mencoba menginstallnya di harddisk eksternal saya. <a href="http://educnology.web.id/open-source/install-ubuntu-810-di-harddisk-eksternal/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" src="http://blogulate.com/wp-content/uploads/2007/12/ubuntu_logo_hd_wallpaper.jpg" alt="" width="219" height="164" />Hari ini saya ngga ada kerjaan, akhirnya saya buka-buka koleksi CD Software Linux saya dan menemukan CD Ubuntu 8.10. akhirnya saya tertarik untuk mencoba menginstallnya di harddisk eksternal saya. Karena saya takut drive Windows 7 Beta saya ke partisi akhirnya sebelum menginstall harddisk Windows 7 Beta di cabut dari sistem.</p>
<p>Sebelumnya saya agak kurang yakin bisa menginstallnya. Tetapi setelah saya buka BIOS PC saya ternyata support buat boot VIA USB HDD. Setelah instalasi dilakukan sistem meminta reboot akhirnya eng-ing-eng ternyata Ubuntu 8.10. saya bisa jalan&#8230; hehehehe&#8230;.</p>
<p>Setelah dapat dipatikan bahwa Ubuntu saya bisa jalan, akhirnya saya mencoba untuk mamasangkan harddisk Windows 7 saya. setelah itu saya coba boot ke Windows dan ternyata tidak ada pengaruh apa-apa di Windows.</p>
<p>Namun, sistem ini tidak efektif karena untuk memilih sistem mana yang akan digunakan kita harus mengatur urutan boot di BIOS PC-nya. Namun, keuntungan dari sistem ini adalah kita tidak perlu mempartisi harddisk Widows menjadi 2 karena tiap-tiap sistem memiliki harddisk sendiri. Setelah seharian bergelut dengan Ubuntu 8.10. saya merasakan tidak ada perbedaan antara sistem yang di install di harddisk eksternal dan sistem yang di install di harddisk internal.</p>
<p>Bagi temen-temen yang ingin belajar Linux dan tidak ingin terganggu pekerjaan dengan Windows dan memiliki harddisk lebih dari satu cara ini bisa digunakan.</p>
<p>Selamat mencoba!!..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://educnology.web.id/open-source/install-ubuntu-810-di-harddisk-eksternal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah, Alergikah dengan Open Source?</title>
		<link>http://educnology.web.id/all-about-education/sekolah-alergikah-dengan-open-source/</link>
		<comments>http://educnology.web.id/all-about-education/sekolah-alergikah-dengan-open-source/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 10:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sandi Fajar Rodiyansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[All About Education]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan TIK]]></category>
		<category><![CDATA[guru TIK]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum TIK]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan ilmu komputer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://galuh29.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Di kalangan pendidikan penggunaan aplikasi open-source tampaknya belum setenar aplikasi closed-source yang biasa dipakai untuk proses belajar dan mengajar. Bisa ditebak software tersebut memang tidak gratis alias berbayar, mereka harus ‘membeli’ software tersebut agar bisa mendapatkannya namun yang mendapat keuntungan bukan sang pembuat tetapi pihak lain yang mendapat keuntungan secara ilegal dengan kata lain software yang digunakan untuk proses belajar adalah software bajakan yang memiliki harga jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga aslinya. <a href="http://educnology.web.id/all-about-education/sekolah-alergikah-dengan-open-source/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" src="http://lh3.ggpht.com/yudha.spiza/SIJDXDd0NcI/AAAAAAAAAbA/lZFB97KMbrw/logo-LGTS.png?imgmax=800" alt="" width="344" height="175" />Di dalam dunia software setidaknya dikenal dua kelompok yang membedakan keduanya, yaitu closed-source (kode tertutup) dan open-source (kode terbuka). Aplikasi closed-source identik dengan software yang tidak gratis alias berbayar sedangkan open-source ada berkat dukungan semua pihak dan boleh digunakan oleh siapa saja dengan bebas  tanpa harus membayar lisensi, biasanya dikaitkan dengan Operating System yang juga ada berkat sifatnya yang open-source yaitu Linux.</p>
<p>Di kalangan pendidikan penggunaan aplikasi open-source tampaknya belum setenar aplikasi closed-source yang biasa dipakai untuk proses belajar dan mengajar. Bisa ditebak software tersebut memang tidak gratis alias berbayar, mereka harus ‘membeli’ software tersebut agar bisa mendapatkannya namun yang mendapat keuntungan bukan sang pembuat tetapi pihak lain yang mendapat keuntungan secara ilegal dengan kata lain software yang digunakan untuk proses belajar adalah software bajakan yang memiliki harga jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga aslinya.</p>
<p>Penggunaan software asli di kalangan pendidikan terutama sekolah-sekolah tingkat SMP dan SMA yang sudah memasukan kurikulum komputer sebagai kurikulum wajib tampaknya memang tidak mudah. Meskipun kurikulum yang diajarkan masih sebatas aplikasi Office (perkantoran) biasanya menggunakan Microsoft Office tetap saja masih terlalu berat. Apa lagi jika kurikulum yang ada menuntut banyak software professional yang harganya ‘sangat’ mahal untuk ukuran kantung kita.</p>
<p>Sebagai contoh kita akan coba masuk kedalam Lab Komputer Multimedia dan ‘melihat-lihat’ isi software dari satu set PC yang digunakan oleh siswa SMK jurusan Multimedia, jurusan baru dibidang IT yang baru saja dibuka tahun ajaran ini. Mulai dari sistem operasinya yang digunakan adalah Microsoft Windows XP Professional, kemudian diikuti aplikasi professional lainnya yaitu Macromedia Dreamweaver MX, Macromedia Flash MX, Adobe Photoshop CS, Adobe After Effect 6.5, Adobe Priemer Pro, CorelDRAW Graphics Suite 12, Ulead Video Studio 7.0 belum lagi Anti Virus komersil untuk melindungi PC yang selalu terhubung ke internet dan lain-lain. Jika dihitung-hitung kalau semua aplikasi tersebut dibeli lewat jalur legal maka biaya yang dikeluarkan cukup untuk membeli sebuah sepeda motor baru secara cash atau tunai. Dan di dalam Lab tidak mungkin hanya ada satu set PC, bisa jadi berjumlah 20 sampai 40 set. Biaya untuk hardwarenya saja sudah mahal.</p>
<p>Dari sini kita dapat melihat sudah seharusnya aplikasi open-source mulai diperkenalkan dan digunakan dalam proses belajar dan mengajar disekolah. Apa lagi dengan diberlakukannya UU HaKI dinegara kita. Menaikan uang SPP sebagai imbas dari pembelian software orisinal tidak akan terlalu memberikan hasil malah akan semakin memberatkan siswa. Lagi pula sekarang banyak korporasi mulai beralih menggunakan software open-source dalam melakukan pekerjaan sehari-harinya sehingga ilmu dari aplikasi open-source yang diajarkan bisa jadi akan sangat bermanfaat saat digunakan untuk bekerja setelah menamatkan sekolah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://educnology.web.id/all-about-education/sekolah-alergikah-dengan-open-source/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
