Mari Ber-internet Sehat

Teknologi internet saat ini mengalami penetrasi yang sangat tinggi di kalangan masyarakat. Terbukti dengan semakin bertambahnya pengguna internet. Dengan adanya fenomena tersebut maka internet saat ini menjadi sarana umum yang efektif untuk publikasi yang biasa digunakan oleh masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua. Mulai dari kalangan masyarakat bawah sampai kalangan terpelajar seperti mahasiswa, dosen dan sebagainya. Continue reading

Fenomena "Alay" di Kalangan Generasi Muda

Kring…. bunyi ponsel saya berdering dan langsung saya buka ada SMS dari rekan saya yang tidak perlu saya sebutkan namanya. Setelah dibuka isi SMS itu… Pusing pisan, bacanya soalnya tulisannya itu ngga tau pake bahasa apa. Tapi setelah saya telusuri huruf per huruf ternyata isinya nanyain nanti mau pulang ke rumah ngga?. Asal kalian tau, waktu yang saya butuhkan untuk memahami SMS itu sekitar 10 menit. Continue reading

Jika Teknologi Ditangan yang Salah

Jika diperhatikan Indonesia adalah negara yang mengkonsumsi teknologi cukup tinggi dan tidak tanggung-tangung teknologi yang digunakan adalah teknologi-teknologi terbaru yang terkadang itu melebihi dari kebutuhan.

Banyak orang Indonesia membeli teknologi itu bukan karena kebutuhan (mungkin termasuk saya dulu). Continue reading

Ujian Nasional, Jujurkah??

Ujian Nasional

Ujian Nasional

Benarkah kejujuran sudah mulai jarang dijumpai dalam dunia pendidikan? Mungkin jawaban mengiyakan segera dilontarkan tanpa ragu lagi. Sebab, semua bisa disimpulkan dari gempuran berbagai berita di media massa, yang seakan sudah tidak pernah merasa sungkan menelanjangi fakta keburukan perilaku oknum-oknum guru, kepala sekolah, dan murid-muridnya, selama menghadapi pelaksanaan ujian nasional.

Disayangkan, sekokoh apapun keprofesian guru harus tegak, berhiaskan idealisme dan moral yang begitu mulia, toh gampang meleleh juga di tangan oknum guru dan atasannya terkena kobaran api perasaan was-was atas kegagalan murid-murid mereka dalam menempuh ujian nasional. Tekanan tersebut menjadi alasan mereka untuk mengoperasikan proses culas mendongkrak persentase keberhasilan dalam kelulusan.

Bukankah ini sama artinya dengan merusak nilai-nilai luhur yang mesti diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya? Atau, apakah karena cara-cara melaksanakan ujian nasional dengan penuh kejujuran sudah dianggap kedaluwarsa, sehingga dibuang begitu saja?

Fenomena ketakutan tidak mampu meluluskan siswa 100% dalam ujian nasional, benar-benar mampu memicu ledakan ketidakjujuran itu. Peristiwa kegagalan ditanggapi sebagai sebuah aib atas prestasi, sebagai ketidakbecusan guru dan atasannya. Pokoknya dunia pendidikan masih tabu dengan kegagalan.

Murid yang tidak lulus ujian nasional dijadikan kambing hitam atas buruknya kualitas sekolah, sebab semua pemangku kepentingan menilai tingkat kelulusan 100% adalah wujud kesuksesan dan prestasi sekolah tersebut. Mereka tidak mau memandang walau dengan sebelah mata, atas tersajinya panorama indah dari sebuah proses pelaksanaan ujian nasional secara jujur, walaupun dengan ini dapat dipastikan bakal ada murid yang tidak lulus.

Adapun upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah diatas adalah dengan melibatkan dosen-dose universitas negeri untuk ikut serta mengawasi jalannya pelaksanaan ujian nasional. Namun di lapangan (menurut berita yang saya baca) adalah kalangan guru SMA/MA terkesan tidak begitu menghendaki kehadiran dosen-dosen PTN untuk menjadi pengawas dalam Ujian Nasional. Apakah ini dampak dari sikap terbiasa dengan ketidakjujuran itu? Kenapa pemerintah harus mengalokasikan dana miliaran rupiah untuk mewujudkan kejujuran itu? Demikian mahalkah harga sebuah kejujuran dalam pelaksanaan sebuah ujian nasional?

Pemilu dan Uang Sepuluh Ribuan..

Tanggal 9 April kemaren, kita bangsa Indonesia di seluruh dunia sudah menyampaikan aspirasinya dengan mengikuti mencoblosan pencontrengan partai politik dan calegnya. Pemilu ini menghabiskan dana yang tidak sedikit dan katanya mencapai Rp. 49,7 trilyun (nol nya ada berapa yah??). Akankah hajat 5 tahunan ini mampu merubah wajah Indonesia menjadi lebih baik? Atau akankah 49,7 trilyun hanya akan melayang sia-sia.

By the way, kemarin saya menggunakan hak pilih saya di rumah (kampung halaman). Saya memperhatikan suasana politik di komplek saya yang kebetulan ada tetangga saya yang menjadi caleg di tingkat kabupaten kota. Setelah seminggu saya memperhatikan fenomena pra pemilu di rumah ternyata muncul fenomena banyak bermunculannya orang baik.

Orang tua saya adalah bendahara sekolah yang mengurusi keuangan tabungan anak-anak dan dana BOS. Selama satu minggu saya dirumah banyak orang-orang yang selalu bertamu ke rumah saya (padahal bapak atau ibu saya bukan caleg). Kalau ada tamu biasanya mereka selalu nuker uang mereka untuk dijadikan pecahan sepuluh ribuan. Karena kebetulan, sebagai bendahara tabungan anak sekolah orang tua saya biasa menyimpan pecahan-pecahan kecil uang.

Saya tidak tahu apakah pecahan uang yang dituker dari orang tua saya akan dipakai apa. Kalau boleh saya berandai-andai, dengan uang sepuluhribuan yang banyak, apakah mereka akan melakukan “serangan fajar” kepada pemilih….??

Sampai sekarang saya tidak mengetahui jawabannya??!!