Ujian Nasional, Jujurkah??

Ujian Nasional

Ujian Nasional

Benarkah kejujuran sudah mulai jarang dijumpai dalam dunia pendidikan? Mungkin jawaban mengiyakan segera dilontarkan tanpa ragu lagi. Sebab, semua bisa disimpulkan dari gempuran berbagai berita di media massa, yang seakan sudah tidak pernah merasa sungkan menelanjangi fakta keburukan perilaku oknum-oknum guru, kepala sekolah, dan murid-muridnya, selama menghadapi pelaksanaan ujian nasional.

Disayangkan, sekokoh apapun keprofesian guru harus tegak, berhiaskan idealisme dan moral yang begitu mulia, toh gampang meleleh juga di tangan oknum guru dan atasannya terkena kobaran api perasaan was-was atas kegagalan murid-murid mereka dalam menempuh ujian nasional. Tekanan tersebut menjadi alasan mereka untuk mengoperasikan proses culas mendongkrak persentase keberhasilan dalam kelulusan.

Bukankah ini sama artinya dengan merusak nilai-nilai luhur yang mesti diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya? Atau, apakah karena cara-cara melaksanakan ujian nasional dengan penuh kejujuran sudah dianggap kedaluwarsa, sehingga dibuang begitu saja?

Fenomena ketakutan tidak mampu meluluskan siswa 100% dalam ujian nasional, benar-benar mampu memicu ledakan ketidakjujuran itu. Peristiwa kegagalan ditanggapi sebagai sebuah aib atas prestasi, sebagai ketidakbecusan guru dan atasannya. Pokoknya dunia pendidikan masih tabu dengan kegagalan.

Murid yang tidak lulus ujian nasional dijadikan kambing hitam atas buruknya kualitas sekolah, sebab semua pemangku kepentingan menilai tingkat kelulusan 100% adalah wujud kesuksesan dan prestasi sekolah tersebut. Mereka tidak mau memandang walau dengan sebelah mata, atas tersajinya panorama indah dari sebuah proses pelaksanaan ujian nasional secara jujur, walaupun dengan ini dapat dipastikan bakal ada murid yang tidak lulus.

Adapun upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah diatas adalah dengan melibatkan dosen-dose universitas negeri untuk ikut serta mengawasi jalannya pelaksanaan ujian nasional. Namun di lapangan (menurut berita yang saya baca) adalah kalangan guru SMA/MA terkesan tidak begitu menghendaki kehadiran dosen-dosen PTN untuk menjadi pengawas dalam Ujian Nasional. Apakah ini dampak dari sikap terbiasa dengan ketidakjujuran itu? Kenapa pemerintah harus mengalokasikan dana miliaran rupiah untuk mewujudkan kejujuran itu? Demikian mahalkah harga sebuah kejujuran dalam pelaksanaan sebuah ujian nasional?

Share and Enjoy:
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • FriendFeed
  • RSS
  • Twitter
This entry was posted in All About Education, Fenomena and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Ujian Nasional, Jujurkah??

  1. yadi rosadi says:

    kejujuran ayenamah lanka untuk dicari dan mahal untuk di beli, salah sahijina lamun di dunia pendidikan, wah loba pasti godaanana, heHe… kumaka dari itu perihalalah kejujuran kita mulai dari diri kita, mulai dari sekarang, mulai lakukan…. kitu meren!!! yupzzz

  2. yadi rosadi says:

    kejujuran ayenamah lanka untuk dicari dan mahal untuk di beli, salah sahijina lamun di dunia pendidikan, wah loba pasti godaanana, heHe… kumaka dari itu perihalalah kejujuran kita mulai dari diri kita, mulai dari sekarang, mulai lakukan…. kitu meren!!! yupzzz yadirosadi.web.id

  3. Sandi Fajar says:

    Kejujuran tidak bisa diukur dengan sertifikasi…
    Guru-guru tetap saja masih memberikan bantuan kepada siswanya dalam menyelesaikan soal ujian…

    dalam hal ini guru tidak bisa dipersalahkan, sistem pendidikan kita yang memaksa hal ini terjadi….

    Maju terus pendidikan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>