Sekolah, Alergikah dengan Open Source?

Di dalam dunia software setidaknya dikenal dua kelompok yang membedakan keduanya, yaitu closed-source (kode tertutup) dan open-source (kode terbuka). Aplikasi closed-source identik dengan software yang tidak gratis alias berbayar sedangkan open-source ada berkat dukungan semua pihak dan boleh digunakan oleh siapa saja dengan bebas  tanpa harus membayar lisensi, biasanya dikaitkan dengan Operating System yang juga ada berkat sifatnya yang open-source yaitu Linux.

Di kalangan pendidikan penggunaan aplikasi open-source tampaknya belum setenar aplikasi closed-source yang biasa dipakai untuk proses belajar dan mengajar. Bisa ditebak software tersebut memang tidak gratis alias berbayar, mereka harus ‘membeli’ software tersebut agar bisa mendapatkannya namun yang mendapat keuntungan bukan sang pembuat tetapi pihak lain yang mendapat keuntungan secara ilegal dengan kata lain software yang digunakan untuk proses belajar adalah software bajakan yang memiliki harga jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga aslinya.

Penggunaan software asli di kalangan pendidikan terutama sekolah-sekolah tingkat SMP dan SMA yang sudah memasukan kurikulum komputer sebagai kurikulum wajib tampaknya memang tidak mudah. Meskipun kurikulum yang diajarkan masih sebatas aplikasi Office (perkantoran) biasanya menggunakan Microsoft Office tetap saja masih terlalu berat. Apa lagi jika kurikulum yang ada menuntut banyak software professional yang harganya ‘sangat’ mahal untuk ukuran kantung kita.

Sebagai contoh kita akan coba masuk kedalam Lab Komputer Multimedia dan ‘melihat-lihat’ isi software dari satu set PC yang digunakan oleh siswa SMK jurusan Multimedia, jurusan baru dibidang IT yang baru saja dibuka tahun ajaran ini. Mulai dari sistem operasinya yang digunakan adalah Microsoft Windows XP Professional, kemudian diikuti aplikasi professional lainnya yaitu Macromedia Dreamweaver MX, Macromedia Flash MX, Adobe Photoshop CS, Adobe After Effect 6.5, Adobe Priemer Pro, CorelDRAW Graphics Suite 12, Ulead Video Studio 7.0 belum lagi Anti Virus komersil untuk melindungi PC yang selalu terhubung ke internet dan lain-lain. Jika dihitung-hitung kalau semua aplikasi tersebut dibeli lewat jalur legal maka biaya yang dikeluarkan cukup untuk membeli sebuah sepeda motor baru secara cash atau tunai. Dan di dalam Lab tidak mungkin hanya ada satu set PC, bisa jadi berjumlah 20 sampai 40 set. Biaya untuk hardwarenya saja sudah mahal.

Dari sini kita dapat melihat sudah seharusnya aplikasi open-source mulai diperkenalkan dan digunakan dalam proses belajar dan mengajar disekolah. Apa lagi dengan diberlakukannya UU HaKI dinegara kita. Menaikan uang SPP sebagai imbas dari pembelian software orisinal tidak akan terlalu memberikan hasil malah akan semakin memberatkan siswa. Lagi pula sekarang banyak korporasi mulai beralih menggunakan software open-source dalam melakukan pekerjaan sehari-harinya sehingga ilmu dari aplikasi open-source yang diajarkan bisa jadi akan sangat bermanfaat saat digunakan untuk bekerja setelah menamatkan sekolah.

Share and Enjoy:
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • FriendFeed
  • RSS
  • Twitter
This entry was posted in All About Education, Open Source, Pendidikan TIK and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Sekolah, Alergikah dengan Open Source?

  1. Kusdasu says:

    Assalamu’alaikum..
    Bener mas…
    kayaknya emang alergi tuh…

    Dan ternyata alasan untuk bermigrasi ke open source di bumi pertiwi ini sungguh-sungguh-sungguh sangat sulit.

    Dengan Project Indonesia Goes Open Source!, ternyata masih percuma, karena kalangan instansi, baik pendidikan maupun kantoran belum cukup menyadari tentang keuntungan dalam pemakaian FOSS (Free and Open Source Software).

    Semoga nanti suatu saat kita SADAR, dan PAHAM akan beban yang ada, dengan memakai software komersil..

    Keep Simple..

    http://kusdasu.wordpress.com

  2. Iyah,,, kita sebagai rakyat biasa yang ngga punya pengaruh apa2 kayaknya ngga bisa ngapa-ngapain buat ngerubah semua ini..

    Yah, kayaknya kita hanya bisa ngelakuin hal2 kecil ajah, seperti kita pake open source untuk kita sendiri….
    saya juga disini pake windows 7 yang masih beta lumayan gratis ya, kalo betanya udah abis mah kembali ke ubuntu..

  3. elsabarto says:

    makanya kita harus racunin generasi muda dengan linux

  4. Eh says:

    Jangan pake racun2an deh. Horor :-D

    Simple aja. Mulailah dr diri sendiri. Dan nyebar ke kluarga, juga ke teman, t4 kerja, dll. Pasti akan smakin tahu semua orang apa itu OpenSource.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>