Satu lagi dari Microsoft : "Windows 7"

7Sudah dua minggu ini saya menggunakan Windows 7 Beta, dalam dua minggu ini saya dimanjakan dengan fitur-fitur yang oke dari windows 7 atau disingkat dengan W7. Kesan pertama dari W7 adalah “cepet”. Gila, dari booting ke ready dipake hanya butuh 12 detik. Hal ini tidak saya rasakan ketika saya menggunakan Win Vista yang include terinstall di leptop TOSHIBA saya. Katanya, Microsoft mengubah arsitektur W7 ini sehingga terasa lebih cepat. Sebagian besar perubahan di W7 mengutamakan kemudahan dan kenyamanan penguna dalam menggunakan W7. Berikut yang saya rasakan dalam menggunakan W7 :

  1. Mendapat perubahan terbesar sejak pertama kali debut di Windows 95. Windows 7 sudah tidak akan lagi menampilkan ikon aplikasi kecil lengkap dengan nama aplikasi melainkan hanya ikon berukuran besar mirip dengan Mac OS X. Daftar jendela yang ditampilkan saat menempatkan tetikus di atas ikon aplikasi juga diganti dengan user interface (UI) “ribbon” yang menampilkanthumbnail jendela yang terbuka secara menyamping.
  2. Secara resmi dinamakan sebagai “Notification Area,” Microsoft akhirnya memungkinkan pengguna alat-alat untuk menata area desktop yang sering berantakan ini. Pengguna dapat memiliki ikon apa saja yang ditampilkan di System Tray, mengubah posisi ikon dan apakah mereka diperbolehkan menarik perhatian pengguna dengan notifikasi.
  3. UAC merupakan salah satu fitur yang paling dibenci pengguna Windows Vista. Kini selain pilihan “On” dan “Off,” pengguna dapat memilih agar UAC hanya muncul saat instalasi aplikasi atau saat sebuah aplikasi mengubah konfigurasi Windows saja. Belum diketahui apakah perubahan ini cukup untuk menjadikan UAC dari musuh menjadi teman, tetapi perubahan ini setidaknya akan menjadikan UAC Windows lebih ramah.
  4. Microsoft mengatakan bahwa mereka banyak melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja dan stabilitas Windows 7 seperti mengurangi waktu boot dengan mengaktifkan beberapa aplikasi secara parallel, metode manajemen memori baru dan banyak lagi.
  5. Fitur peeking pada Windows 7 memudahkan pengguna untuk dengan cepat membaca konten dalam satu jendela tanpa perlu berinteraksi dengan jendela tersebut. Menempatkan tetikus di atas thumbnail jendela di Task Bar akan mengubah semua jendela yang terbuka menjadi transparan kecuali jendela yang dipilih. Selain dapat “mengintip” jendela aplikasi tertentu pengguna juga dapat mengintip desktop Windows.
  6. Jika dibandingkan dengan widget Mac OS X yang dapat ditempatkan di desktop, perbedaan paling mencolok dari gadget Microsoft adalah peletakannya pada sidebar di sebelah kanan layar. Di W7, sidebar tersebut dihilangkan karena dianggap terlalu banyak menggunakan tempat yang ada dan gadget kini dapat diletakkan langsung di desktop. Walaupun hal ini juga sebenarnya dapat dilakukan di Vista.

Sekolah, Alergikah dengan Open Source?

Di dalam dunia software setidaknya dikenal dua kelompok yang membedakan keduanya, yaitu closed-source (kode tertutup) dan open-source (kode terbuka). Aplikasi closed-source identik dengan software yang tidak gratis alias berbayar sedangkan open-source ada berkat dukungan semua pihak dan boleh digunakan oleh siapa saja dengan bebas  tanpa harus membayar lisensi, biasanya dikaitkan dengan Operating System yang juga ada berkat sifatnya yang open-source yaitu Linux.

Di kalangan pendidikan penggunaan aplikasi open-source tampaknya belum setenar aplikasi closed-source yang biasa dipakai untuk proses belajar dan mengajar. Bisa ditebak software tersebut memang tidak gratis alias berbayar, mereka harus ‘membeli’ software tersebut agar bisa mendapatkannya namun yang mendapat keuntungan bukan sang pembuat tetapi pihak lain yang mendapat keuntungan secara ilegal dengan kata lain software yang digunakan untuk proses belajar adalah software bajakan yang memiliki harga jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga aslinya.

Penggunaan software asli di kalangan pendidikan terutama sekolah-sekolah tingkat SMP dan SMA yang sudah memasukan kurikulum komputer sebagai kurikulum wajib tampaknya memang tidak mudah. Meskipun kurikulum yang diajarkan masih sebatas aplikasi Office (perkantoran) biasanya menggunakan Microsoft Office tetap saja masih terlalu berat. Apa lagi jika kurikulum yang ada menuntut banyak software professional yang harganya ‘sangat’ mahal untuk ukuran kantung kita.

Sebagai contoh kita akan coba masuk kedalam Lab Komputer Multimedia dan ‘melihat-lihat’ isi software dari satu set PC yang digunakan oleh siswa SMK jurusan Multimedia, jurusan baru dibidang IT yang baru saja dibuka tahun ajaran ini. Mulai dari sistem operasinya yang digunakan adalah Microsoft Windows XP Professional, kemudian diikuti aplikasi professional lainnya yaitu Macromedia Dreamweaver MX, Macromedia Flash MX, Adobe Photoshop CS, Adobe After Effect 6.5, Adobe Priemer Pro, CorelDRAW Graphics Suite 12, Ulead Video Studio 7.0 belum lagi Anti Virus komersil untuk melindungi PC yang selalu terhubung ke internet dan lain-lain. Jika dihitung-hitung kalau semua aplikasi tersebut dibeli lewat jalur legal maka biaya yang dikeluarkan cukup untuk membeli sebuah sepeda motor baru secara cash atau tunai. Dan di dalam Lab tidak mungkin hanya ada satu set PC, bisa jadi berjumlah 20 sampai 40 set. Biaya untuk hardwarenya saja sudah mahal.

Dari sini kita dapat melihat sudah seharusnya aplikasi open-source mulai diperkenalkan dan digunakan dalam proses belajar dan mengajar disekolah. Apa lagi dengan diberlakukannya UU HaKI dinegara kita. Menaikan uang SPP sebagai imbas dari pembelian software orisinal tidak akan terlalu memberikan hasil malah akan semakin memberatkan siswa. Lagi pula sekarang banyak korporasi mulai beralih menggunakan software open-source dalam melakukan pekerjaan sehari-harinya sehingga ilmu dari aplikasi open-source yang diajarkan bisa jadi akan sangat bermanfaat saat digunakan untuk bekerja setelah menamatkan sekolah.

Internet, temannya atau musuhnya Pendidikan?

internetAkhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang menjamurnya atau membumingnya sebuah situs kumunitas sosial yang memiliki brand Facebook. Banyak pengguna internet menggunakan situs tersebut untuk bersosialisasi dengan  teman-teman nya, termasuk pengguna internet kalangan pelajar dan mahasiswa (termasuk saya). Hal ini merupakan sebuah fenomena wajar karena saat ini kita sebagai pengguna internet sangat dimanjakan dengan tarif internet yang semakin miring atau bahkan gratis (ditempat-tempat free hotspot).

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah koneksi internet mereka hanya digunakan untuk bersosialisasi saja? Padahal, internet merupakan tempatnya atau lebih tepatnya disebut MAHA GUDANG informasi yang dapat digali, yang dalam hal ini siswa dan mahasiswa dapat menggunakan koneksi internet tersebut untuk mencari data atau informasi yang berguna bagi kelangsungan studinya.

Saya punya pengalaman pribadi, pernah ada teman saya yang sudah punya koneksi internet menanyakan kepada saya mengenai tugas salah satu mata kuliah lalu saya jawab “tanyakan ke bang Google.” Ini membuktikan bahwa kita selaku pelajar dan mahasiswa belum mengetahui atau lebih tepatnya belum mengoptimalkan internet sebagai mesin pencari pengetahuan.

Sebenarnya internet membuat beberapa ancaman baru bagi peserta didik diantaranya :

  1. Banyak sekali siswa-siswi sudah biasa membuang terlalu banyak waktu main games, misalnya Play Station dan Games Online.
  2. Terlalu banyak siswa-siswi juga sudah mulai menghabiskan banyak waktu di Internet di situs-situs hiburan (atau cari jodoh) seperti Facebook, Yahoo Messenger dan Friendster
  3. Lebih dari 90% bahan dan informasi yang bermutu, yang dapat meluaskan dan membuka pikiran dan kreativitas anak kita di Internet dalam bahasa Inggris. (ini terjadi karena kemampuan bahasa inggris kita kurang.)

Apakah sekarang internet hanya digunakan untuk bersenang-senang semata? Apakah internet sekarang hanya digunakan untuk chating saja?

Pertanyaan ini hendaknya kita jawab dengan jujur…