Departemen pendidikan nasional pada tahun 2006 mengeluarkan kurikulum baru yang disebut dengan KTSP (Kurikulum tingkat satuan pendidikan) yang merupakan pengembangan dari KBK (Kurikulum berbasis kompetensi). Hal ini merupakan terobosan baru dari pemerintah untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Dengan KTSP setiap satuan pendidikan berhak untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kultur dan kemampuan satuan pendidikan tersebut.
Pada KTSP atau bahkan KBK sebagai pendahulunya telah memasukan salah satu mata pelajaran wajib yang dipelajari oleh siswa. Pelajaran tersebut adalah pelajaran TIK, pada pelajaran ini siswa mengetahui dan mempraktikan penggunaan alat-alat teknologi informasi dan komunikasi.
Masalah yang kemudian muncul dari adanya kurikulum TIK adalah bagaimana perangkat lunak digunakan dalam pembelajaran. Mengingat kita mengetahui ada dua macam perangkat lunak yang berkembang di dunia TIK yaitu perangkat lunak berbayar dan perangkat lunak bebas. Dengan menggunakan perangkat lunak berbayar kita dituntut untuk membeli lisensi penggunaan perangkat lunak tersebut kepada depelover perangkat lunak tersebut. Sementara perangkat lunak bebas adalah perangkat lunak yang bebas digunakan dan didistribusikan kepada siapapun.
Kurikulum TIK 2006 itu tidak lagi menyebut nama produk perangkat lunak, seperti dalam kurikulum pendidikan komputer di Indonesia beberapa tahun sebelumnya. Misalnya, pelajaran pengolah kata tidak menyebutkan Microsoft Word, sehingga penyelenggara sekolah dapat menggunakan OpenOffice Writer, AbiWord, Kword, dan lain-lain.
Yang lebih menarik, dalam salah satu materi pokok pelajaran TIK untuk sekolah itu terdapat materi etika dalam menggunakan teknologi informasi dan UU Hak Cipta. Akan sangat memalukan, bila pada saat pelajaran tentang etika dan hak cipta ini siswa menggunakan perangkat lunak bajakan. Di sisi lain, akan sangat berat bagi sekolah dan orang tua siswa, jika harus membayar lisensi semua perangkat lunak yang digunakan di sekolah.
Hari ini saya ngga ada kerjaan, akhirnya saya buka-buka koleksi CD Software Linux saya dan menemukan CD Ubuntu 8.10. akhirnya saya tertarik untuk mencoba menginstallnya di harddisk eksternal saya. Karena saya takut drive Windows 7 Beta saya ke partisi akhirnya sebelum menginstall harddisk Windows 7 Beta di cabut dari sistem.
Mungkin bagi sebagian besar orang weekend merupakan ajang untuk liburan, terlebih jika liburan panjang. Ini sudah menjadi ritual umum bahwa jika liburan identik dengan pergi keluar kota. Yah, mungkin mereka bosan dengan keadaan di kota mereka masing-masing. Sengaja mereka meluangkan waktu di liburan mereka untuk jalan-jalan ke luar kota.
kepada internet. Bayangkan, setiap hari kita online di internet messager kita baik dengan komputer maupun dengan handphone, tentunya handphone yang mendukung buat chating.
Kadangkala kita ingin melakukan proses cepat dalam melakukan penginputan, pengolahan dan melihat data yang sudah diolah. Ya, hal ini wajar terjadi karena pada dasarnya manusia mempercayai bahwa komputer itu super cepat dalam melakukan sesuatu. Disini saya akan berbagi beberapa shortcut yang belum biasa dilakukan oleh kebanyakan pengguna komputer. Khusunya dalam softwarre Microsoft Excel. Sebenernya ilmu ini bari saya dapatkan dari
Sudah dua minggu ini saya menggunakan Windows 7 Beta, dalam dua minggu ini saya dimanjakan dengan fitur-fitur yang oke dari windows 7 atau disingkat dengan W7. Kesan pertama dari W7 adalah “cepet”. Gila, dari booting ke ready dipake hanya butuh 12 detik. Hal ini tidak saya rasakan ketika saya menggunakan Win Vista yang include terinstall di leptop TOSHIBA saya. Katanya, Microsoft mengubah arsitektur W7 ini sehingga terasa lebih cepat. Sebagian besar perubahan di W7 mengutamakan kemudahan dan kenyamanan penguna dalam menggunakan W7. Berikut yang saya rasakan dalam menggunakan W7 :